28
Desember 2014, Bandara Internasional Juanda Surabaya sudah ramai dipenuhi oleh
calon penumpang sejak pukul 02.00 WIB pagi dini hari. Saya bersama 1 orang
teman saya termasuk salah satunya. Pagi itu kami berencana untuk kembali ke
Jakarta dari Surabaya menggunakan Air Asia yang dijadwalkan terbang pada pukul
05.45 WIB. Setelah melakukan check in, kami berbaris di belakang calon
penumpang lain yang telah mengular menunggu giliran pemeriksaan untuk masuk ke
dalam ruang tunggu. Entah karena masih mengantuk atau karena baru pertama kali
terbang dari terminal 2 Bandara Juanda, kami tidak sadar bahwa ternyata barisan
calon penumpang tersebut adalah untuk penerbangan Internasional. Setelah
beberapa menit mengobrol dan memperhatikan sekeliling, kamipun tersadar bahwa
untuk keberangkatan domestik berada di sisi kiri posisi kami pada saat itu.
Dengan menahan malu, pelan-pelan kami keluar dari barisan calon penumpang yang
mayoritas berisi keluarga besar yang akan berlibur ke Singapura menggunakan Air
Asia QZ8501.
Setibanya
di Depok, saya dikagetkan dengan berita menghilangnya Air Asia QZ8501. Saya
benar-benar tidak menyangka bahwa pertemuan pertama saya yang tidak disengaja
tersebut juga merupakan pertemuan terakhir saya dengan mereka. Saya masih ingat
jelas bagaimana lucunya salah satu anak perempuan dari keluarga Chinese yang
menjadi korban di penerbangan pagi itu.
Dalam
website Kompas disebutkan bahwa Direktur Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo
mengungkapkan kronologi hilangnya pesawat Air Asia ZQ8501 sebagai berikut :
- Pukul 05.36, pesawat berangkat dari Surabaya menuju
Singapura dengan ketinggian 32.000 kaki. Pesawat dilaporkan mengikuti jalur yang
biasa ditempuh antara Surabaya dan Singapura, yaitu M635.
- Kontak terakhir pesawat dengan Air Traffic Control
Jakarta pukul 06.12. Dalam kontak itu, pilot meminta menghindar ke arah kiri
dan meminta izin untuk naik ke ketinggian 38.000 kaki. Permintaan pilot
disetujui oleh pihak ATC.
- Pukul 06.16, pesawat masih ada di layar radar.
- Pukul 06.17, pesawat hanya tinggal sinyal di dalam
radar ATC.
- Pukul 06.18, pesawat hilang dari radar. Yang ada pada
radar tinggal data rencana terbang. Seharusnya, di dalam radar terdapat data
lain, yakni realisasi terbang. Namun, data itu hilang.
- Pukul 07.08, pesawat dinyatakan INCERFA, yakni tahap
awal hilangnya kontak. Pihak Dirjen Perhubungan melakukan kontak ke Basarnas.
- Pukul 07.28, pesawat dinyatakan ALERFA, tahap berikut
dalam menyatakan pesawat hilang kontak.
-
Pukul 07.55, pesawat dinyatakan DETRESFA atau resmi
dinyatakan hilang. 1
Pada
tanggal 29 Desember 2014, Kepala Badan SAR Nasional Bambang Soelistyo
mengatakan bahwa pemerintah Indonesia yakin pesawat AirAsia yang membawa 162
orang penumpang dan awak kabin jatuh di dasar laut, berdasarkan data radar dari
kontak terakhir pesawat. 2
"Lokasi
hilang kontak, yakni antara Tanjung Pandan dan Pontianak agak ke selatan.
Basarnas masih mencari posisi itu karena ELT yang biasanya (jika) pesawat itu
jatuh akan ada transmisi, ini belum ada," kata Djoko.3
Pada
30 Desember 2014, Badan SAR Nasional (Basarnas) mengkonfirmasi telah menemukan
serpihan pesawat AirAsia QZ8501 dan jenazah penumpang. Salah satu jenazah yang
ditemukan dalam posisi telungkup mengenakan baju putih celana hitam, sementara
3-4 jenazah berjejeran dan terlihat sedang bergandengan. Temuan ini berpusat di
Laut Jawa, dekat dengan Selat Karimata. Kepala Badan SAR Nasional Bambang
Soelistyo mengatakan, tim SAR dengan pesawat C295 TNI AU dan Hercules C-130
menemukan sejumlah serpihan di Selat Karimata yang dekat dengan Laut Jawa.
Serpihan-serpihan itu antara lain ditemukan di titik koordinat 03°46'50"
LS, 110°29'27" BT dan 08°50'43" LS, 110°29'21,8" BT. Salah satu
serpihan yang ditemukan adalah lempengan logam dan pintu darurat keluar
(emegency exit door), serpihan tersebut sudah dievakuasi ke KRI Bung Tomo. Dalam
tahap pencarian lanjutan tangal 2 Januari 2015, tiga jenazah yang ditemukan
berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster and Victim Identification (DVI) Jawa
Timur dan dikonfirmasi langsung oleh Kepala Tim, Komisaris Besar Budiyono.
Ketiga jenazah teridentifikasi bernama lengkap Grayson Herbert Linaksita,
Khairunisa Haidar Fauzi, dan Kevin Alexander Soetjipto. Sebelumnya, pada
tanggal 1 Januari 2015, juga sudah dikonfirmasi satu jenazah korban yang
bernama Hayati Lutfiah Hamid.4
Sehari
berikutnya, tanggal 3 Januari 2015, dua jenazah berhasil diidentifikasi atas
nama The Meiji Thejakusuma dan Hendra Gunawan Syawal. Lalu, tanggal 4 Januari
2015, tiga jenazah berhasil diidentifikasi atas nama Wismoyo Ari Prambudi, Jie
Stevie Gunawan, dan Juanita Limantara. Pada 7 Januari 2015, atau 11 hari
setelah kecelakaan, bagian ekor pesawat AirAsia QZ8501 ditemukan oleh tim
penyelam dari Kapal MGS GeoSurvey. Ekor pesawat tersebut berada pada kedalaman
kurang lebih 35 meter di titik koordinat 03.36.31 lintang selatan dan 109.41.66
bujur timur. Selanjutnya pada 10 Januari 2015, Ekor pesawat tersebut dapat
diangkat, tetapi ekor tempat black box kosong dan dipastikan, black box lepas
dari tempatnya. Pencarian dilanjutkan untuk menemukan Flight Data Recorder
(FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Berdasarkan sinyal ping yang diterima
KN Jadayat, posisi black box diketahui di koordinat 03˚ 37' 21" S dan 109˚
42' 42". Penyelaman pertama oleh TNI-AL, Serda Rajab Suwarno yang membawa
pinger detector bersama Kapten Saiful, Pelda Bambang, dan KLK navigasi Edi
Susanto dilakukan pada 12 Januari 2015. Tepat pada pukul 07.12 WIB, mereka
berhasil mengangkat FDR ke permukaan dari kedalaman sekitar 35 meter. Esoknya
pada 13 Januari 2015, dilakukan penyelaman kedua, Serda Rajab kembali menyelam
bersama Letnan Aang dan Sertu Widodo. Akhirnya CVR ditemukan di antara tumpukan
pasir dan lumpur sekitar 20 meter dari penemuan FDR. Pada pukul 07.13 WIB, CVR
berhasil diangkat. Pada 14 Januari 2015, badan pesawat berhasil ditemukan oleh
ROV (Robotic Operated Vihacle) dari RSS MV SWIFT Rescue kapal Singapura yang
ikut dalam pencarian. Foto-foto dari ROV segera dipublikasikan oleh Menteri
Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen di akun facebooknya. Badan pesawat tersebut
ditemukan sekitar 3000 meter dari lokasi ekor. Setelah mendapatkan lokasinya,
KRI Banda Aceh segera bergerak menuju perairan Karimata. Sebelumnya mereka
menambah tim penyelam hingga 83 orang penyelam, untuk mempercepat proses
pencarian dan pengangkatan.5
Nelayan
menemukan satu jenazah yang diperkirakan berusia 13 tahun di perairan
Maradapan, Pulau Sembilan, Kalimantan Selatan, Jumat (16/1/2015). "Iya
satu lagi jenazah ditemukan di Pulau Sembilan. Infonya, anak-anak tanggung,
sekitar 13 tahunan," ujar Direktur Operasional Basarnas Marsekal Pertama
SB Supriyadi di Posko Pencarian Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan
Tengah, Jumat (16/1/2015). Petugas dari Polairud Kotabaru, Kalsel, telah
menjemput jenazah anak tersebut dengan kapal Sadewa. Kapal tersebut juga
membawa dua jenazah hasil temuan nelayan setempat sebelumnya. Rencananya,
setiba di Kotabaru, petugas akan membawa ketiga jenazah tersebut dengan pesawat
dari Bandara Udara Batu Licin, Kalsel, ke Surabaya. "Saat ini, kapal itu
masih dalam perjalanan menuju Kotabaru. Infonya, sekitar pukul 6 sore baru
sampai Kotabaru. Mungkin besok pagi baru diterbangkan ke Surabaya. Kalau
pesawat sih sudah siap dan 'menunggu' sejak kemarin," katanya. Informasi
yang dihimpun, saat ini sejumlah anggota TNI dari KRI Pandrong tengah menyusuri
lokasi temuan ketiga jenazah tersebut untuk memastikan masih ada atau tidaknya
jenazah korban AirAsia. Dengan demikian, memasuki hari ke-20 masa pencarian
ini, sudah ada 51 jenazah korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 yang
ditemukan. Sebanyak 48 jenazah di antaranya sudah dibawa ke Surabaya, Jawa
Timur, untuk proses identifikasi. Sementara itu, 111 orang lainnya, yang
terdiri dari penumpang dan awak pesawat tersebut, masih dalam proses pencarian
tim SAR gabungan di Laut Jawa dan Selat Karimata.6
1
Sabrina Asril, "Ini Kronologi Hilangnya Pesawat AirAsia QZ8501",
Kompas, diakses dari
http://nasional.kompas.com/read/2014/12/28/1314031/Ini.Kronologi.Hilangnya.Pesawat.AirAsia.QZ8501.,
pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 00.23
2
Jethro Mullen, Susanna Capelouto and Catherine E. Shoichet, CNN (28 December
2014). "Official: Missing AirAsia jet likely at bottom of sea -
CNN.com". CNN. Diakses 17 Januari 2015 pukul 00.35.
3
Asril, loc.cit.
4
"Indonesia AirAsia Penerbangan 8501", Wikipedia, diakses dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_AirAsia_Penerbangan_8501, pada tanggal
17 Januari 00.45
5
Ibid.
6
Abdul Qodir, "Nelayan Temukan Jenazah Anak di Pulau Sembilan Kalsel",
Tribun News, diakses dari
http://www.tribunnews.com/nasional/2015/01/16/nelayan-temukan-jenazah-anak-di-pulau-sembilan-kalsel,
pada tanggal 17 Januari 2015 pukul 01.29
No comments:
Post a Comment