Monday, November 10, 2014

Tugas Bahasa Indonesia (Pertemuan ke-2) : Perencanaan Karangan

III.
1. Topik karangan : Panduan menangani keadaan darurat di gunung
2. Tujuan : menyediakan informasi offline serta teknik untuk menangani keadaan darurat pada saat mendaki gunung menggunakan media handphone
    Tesis : Offline Ebook penanganan keadaan darurat pada saat mendaki gunung
3. Kerangka karangan :
      Bab I    Pendahuluan
                   1.1 Latar Belakang
                   1.2 Masalah
                   1.3 Tujuan
                   1.4 Pembatasan Masalah
      Bab II   Pembahasan
                  2.1 Diagram & Flowchart
                  2.2 Perancangan aplikasi menggunakan JAVA mobile
                  2.3 Kelebihan dan kekurangan Offline Ebook application
      Bab III Penutup
                   3.1 Kesimpulan
                   3.2 Saran
4. Latar belakang :
      Dewasa ini, aktifitas mendaki gunung semakin digemari. Entah pengaruh dari film 5cm - yang menceritakan tentang pendakian Gunung Semeru di Jawa Timur - atau bukan. Kegiatan mendaki gunung memiliki resiko yang cukup berbahaya. Jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang bagaimana teknik mendaki dan turun gunung yang benar, maka resiko terjadinya kecelakaan akan semakin tinggi. Tidak heran jika cukup banyak berita pendaki yang tewas dikarenakan kurangnya pengetahuan ataupun kepedulian tentang keselamatan diri mereka sendiri. Contoh : tidak membawa bekal dan peralatan yang memadai, ketidakpedulian dengan larangan mendaki sampai puncak gunung yang berstatus waspada, kurangnya pengetahuan tentang jalur pendakian, dll.
       Mendaki gunung tidak hanya sekedar berjalan ke atas gunung, berkemah, menikmati keindahan alam yang ada, lalu turun kembali. Diperlukan adanya teknik & peralatan khusus serta pengetahuan yang memadai untuk mengurangi resiko yang ada. Beberapa cara menghadapi keadaan darurat di gunung hanya bisa diperoleh melalui pengalaman. Sedangkan saat ini, cukup banyak pendaki pemula yang benar-benar awam dan belum pernah melakukan pendakian sama sekali. Proses perijinan pendakian pun sangat mudah. Hanya dengan membayar sejumlah uang tanpa adanya pemberian informasi penting yang memadai. 
        Informasi yang tersedia di internet pun belum cukup menjadi bekal mendaki gunung. Rata-rata hanya menyediakan informasi letak, cara menuju lokasi, biaya / waktu yang dibutuhkan, dll. Informasi jalur pendakian memang tersedia di basecamp setempat, beberapa lokasi juga menyediakan versi cetaknya di selembar kertas kecil. Namun, informasi yang tersedia hanya berupa pos-pos pendakian tanpa adanya petunjuk atau tanda-tanda jalur berbahaya serta informasi berbahaya lainnya. Dengan adanya keterbatasan signal internet di gunung, pendaki akan kesulitan mencari informasi terutama jika terjadi keadaan darurat, misalnya tersesat, terjatuh ke jurang, kebakaran hutan, dll.
         Dalam keadaan darurat, pendaki harus bisa membaca situasi sekitarnya. Fauna/flora apa saja yang membahayakan hidupnya, bagaimana cara membaca arah sehingga dapat kembali ke jalur yang benar, bagaimana cara mencari sumber mata air dan makanan di gunung, bagaimana cara melakukan pertolongan pertama jika ada teman / orang lain yang cidera, dll. Informasi-informasi tsb akan dikumpulkan ke dalam suatu database yang memungkinkan para pendaki tsb mengaksesnya secara offline.
          Sistem ini akan dibangun dengan berbasis mobile sehingga memudahkan para pengguna mendapatkan informais yang dibutuhkan melalui perangkat handphone. Para pendaki akan mendapatkan kemudahan pencarian informasi-informasi penting dari pakar meskipun di tengah gunung sekalipun. 


5. Masalah : 
    Keterbatasan signal internet di daerah pedalaman, seperti di dalam hutan atau di atas gunung menyebabkan sulitnya mencari informasi bagaimana cara meghadapi keadaan darurat pada saat mendaki gunung, terutama bagi para pemula. Masing-masing gunung memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memiliki tingkat resiko yang berbeda. Proses perijinan mendaki gunung yang tidak disertai dengan adanya briefing atau penyampaian informasi-informasi penting yang harus diketahui oleh para pendaki dapat membahayakan keselamatan para pendaki tsb. Selama ini peraturan tertulis yang ada hanya berupa larangan-larangan dengan informasi yang sangat terbatas. Padahal tidak semua orang memiliki pengetahuan bagaimana cara bertahan hidup di alam liar.
6. Tujuan : 
      Pembuatan aplikasi offline ebook ini bertujuan untuk memandu para pendaki gunung untuk bertahan hidup jika mereka tersesat ataupun menghadapi bahaya lainnya. Contoh : cara menentukan arah, pertolongan pertama keadaan darurat, mencari mata air dan sumber makanan (membedakan tumbuhan yang bisa dimakan dan tidak beracun), cara membuat signal SOS, informasi jalur berbahaya yang tidak boleh dilalui, dll. 
     Aplikasi ini akan disediakan untuk pengguna android, iOS ataupun windows phone. Pengguna hanya perlu mengunduh informasi yang dibutuhkan terlebih dahulu di wilayah yang masih mendapatkan signal internet yang baik agar dapat digunakan secara offline. 
7. Pembatasan masalah :
      Fungsi aplikasi ini baru sebatas informasi dasar yang sesuai dengan karakteristik gunung yang dipilih. Karena adanya keterbatasan signal, maka fitur untuk mengirimkan signal lokasi pendaki ke basecamp terdekat untuk memudahkan pencarian tim SAR jika terjadi keadaan darurat masih belum dapat ditanamkan di dalam aplikasi tsb. Diperlukan perangkat tambahan untuk dapat berkomunikasi melalui satelit. Sehingga aplikasi hanya dapat digunakan untuk membantu pendaki untuk bertahan hidup sampai bertemu / ditemukan oleh orang lain. Aplikasi ini juga terbatas oleh daya tahan battery handphone pengguna.
8. Cara mendapatkan data penulisan :
    a. Survey secara langsung ke lokasi (gunung) yang diperlukan
    b. Wawancara dengan petugas basecamp atau tim SAR setempat
    c. Wawancara dengan pakar pendaki gunung
    d. Pengumpulan informasi melalui media internet yang terpercaya (situs resmi taman nasional)


II.
1. Bacaan di atas berupa laporan kualitatif.
2. Laporan tersebut disusun secara deduktif.
3. Laporan di atas berisi perencanaan.
4. Bahasa laporan itu logis.
5. Pendekatan pembahasan komunikatif.

I.
1. Ragam bahasa bacaan di atas adalah berita.
2. Topik bacaan di atas adalah penyimpangan sampel.
3. Kalimat kedua menyatakan perbedaan sampel besar dan sampel kecil.
4. Kata sampel sebaiknya ditulis sampel.
5. Kalimat kelima "Berarti, untuk sampel-sampel kecil, kesimpulannya tak dapat dijamin." Untuk sampel-sampel kecil merupakan subyek.
6. Topik yang baik harus memenuhi syarat berikut, kecuali cukup luas.
7. Contoh topik yang baik bagi studi akuntansi misalnya Sistem keuangan global.
8. Kalimat tesis yang baik misalnya "Penggunaan program komputer yang dirancang secara tepat akan berpengaruh secara positif terhadap pengembangan sistem kerja."
9. Kalimat tesis yang baik memenuhi syarat berikut ini, kecuali menggunakaan kata konotasi.
10. Contoh perumusan masalah karangan ilmiah yang menuntut adanya analisis adalah "Apakah pengaruh politik terhadap perekonomian nasional?"
11. Kata yang menyatakan tujuan penelitian adalah membuktikan.

Latihan dan Tugas Mandiri
1. Hakikat perencanaan karangan adalah
    a. Proses kreatif
    b. Menentukan jenis karangan
    c. Perencanaan karangan
2. Mengarang merupakan proses kreatif karena penentuan topik yang kreatif, unik, menarik, memikat, menimbulkan dorongan pembaca untuk mengembangkan potensinya sehingga menghasilkan daya cipta bagi pembaca maupun penulisnya.
3. Jenis-jenis karangan ilmiah
    - Skripsi
    - Tesis
    - Disertasi
    - Surat pembaca
    - Laporan kasus
    - Laporan tinjauan
    - Resensi
    - Monograf
    - Referat
    - Kabilitas
4. Tahapan (proses) penyusunan karangan :
    a. Prapenulisan :
        - Menentukan topik / judul, masalah, tujuan dan kalimat tesis.
        - Menyusun ragangan (garis besar isi dan menyempurnakannya menjadi kerangka karangan lengkap setelah datanya lengkap.
        - Menetapkan landasan teoretis.
        - Menetapkan sumber data (primer, sekunder) dan cara mengumpulkannya.
        - Menetapkan metode pembahasan.
        - Menyusun daftar pustaka sementara
        - Menjadwalkan pelaksanaan.
    b. Penulisan :
        - Menulis keseluruhan naskah secara konseptual, disertai kutipan / data yang diperlukan.
        - Menulis bagian pelengkap pndahuluan, naskah utama dan pelengkap kesimpulan
    c. Penyuntingan (editing) : penyuntingan naskah, materi dan bahasa.
    d. Penulisan naskah yang sudah sempurna, tanpa kesalahan.
    e. Presentasi : menyajikan hasil akhir penulisan makalah / skripsi.
5. Syarat-syarat topik yang baik :
    a. Bagi penulis : sesuai dengan bidang keahlian, bidang studi yang didalami, pengalaman penulis, pengalaman kerja, praktik di lapangan, penelitian, partisipasi dalam kegiatan ilmiah, bidang kerja / profesi, karakter penulis, temuan yang pernah diteliti, kualifikasi pengalaman, kemampuan memenuhi tuntutan masyarakat, kemampuan memenuhi target kebutuhan segmen pembacanya dan temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan.
    b. Bagi pembaca : dapat mengembangkan basis kompetensi pembacanya, yaitu sesuai dengan tuntuntan pembaca untuk mencapai target informasi yang diharapkan, meningkatkan kecerdasan, kompetensi pengembangan akadmik dan profesi, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan dan peningkatan karier dan profesi, mempertajam dan memperhalus rasa kemanusiaan dan daya nalar.
    c. Menarik untuk dibaca
    d. Dikuasai dengan baik
    e. Terbatas
    f. Didukung data
6. Perbedaan topik dan judul karangan :
    Topik merupakan pokok pembicaraan dalam keseluruhan karangan yang akan dibahas, sedangkan judul adalah nama atau titel karangan yang dihasilkan setelah menentukan topik.
7. Syarat-syarat kalimat tesis adalah
    a. berisi gabungan rumusan topik dan tujuan
    b. penekanan topik sebagai suatu pengungkapan pikiran
    c. pembatasan dan ketepatan rumusan
    d. berupa kalimat lengkap yang terdapat subjek dan predikat (object)
    e. menggunakan kata khusus dan denotatif (lugas)
    f. berupa pernyataan positif - bukan kalimat tanya, seru atau negatif
    g. dapat mengarahkan, mengembangkan dan mengendalikan penulisan
    h. dapat diukur dan dibuktikan kebenarannya.
8. 1) Tesis : Pengembangan kreasi pengolahan jenis pangan dari bahan dasar singkong akan membantu meningkatkan komoditas ekspor.
    2) Topik : Efisiensi sumber daya untuk meningkatkan daya saing di pasar Internasional
    Tujuan : membuktikan bahwa penggunaan sumber daya ekonomi secara efisien juga dapat menghasilkan produk yang tangguh dan berdaya saing tinggi di pasar Internasional
9. Topik : Panduan menangani keadaan darurat di gunung
   Tujuan : menyediakan informasi offline serta teknik untuk menangani keadaan darurat pada saat mendaki gunung menggunakan media handphone
    Tesis : Offline Ebook penanganan keadaan darurat pada saat mendaki gunung
10. Kerangka karangan :
      Bab I    Pendahuluan
                   1.1 Latar Belakang
                   1.2 Masalah
                   1.3 Tujuan
                   1.4 Pembatasan Masalah
      Bab II   Pembahasan
                  2.1 Diagram & Flowchart
                  2.2 Perancangan aplikasi menggunakan JAVA mobile
                  2.3 Kelebihan dan kekurangan Offline Ebook application
      Bab III Penutup
                   3.1 Kesimpulan
                   3.2 Saran
11. Pendahuluan :
       Dewasa ini, aktifitas mendaki gunung semakin digemari. Entah pengaruh dari film 5cm - yang menceritakan tentang pendakian Gunung Semeru di Jawa Timur - atau bukan. Kegiatan mendaki gunung memiliki resiko yang cukup berbahaya. Jika tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang bagaimana teknik mendaki dan turun gunung yang benar, maka resiko terjadinya kecelakaan akan semakin tinggi. Tidak heran jika cukup banyak berita pendaki yang tewas dikarenakan kurangnya pengetahuan ataupun kepedulian tentang keselamatan diri mereka sendiri. Contoh : tidak membawa bekal dan peralatan yang memadai, ketidakpedulian dengan larangan mendaki sampai puncak gunung yang berstatus waspada, kurangnya pengetahuan tentang jalur pendakian, dll.
       Mendaki gunung tidak hanya sekedar berjalan ke atas gunung, berkemah, menikmati keindahan alam yang ada, lalu turun kembali. Diperlukan adanya teknik & peralatan khusus serta pengetahuan yang memadai untuk mengurangi resiko yang ada. Beberapa cara menghadapi keadaan darurat di gunung hanya bisa diperoleh melalui pengalaman. Sedangkan saat ini, cukup banyak pendaki pemula yang benar-benar awam dan belum pernah melakukan pendakian sama sekali. Proses perijinan pendakian pun sangat mudah. Hanya dengan membayar sejumlah uang tanpa adanya pemberian informasi penting yang memadai. 
        Informasi yang tersedia di internet pun belum cukup menjadi bekal mendaki gunung. Rata-rata hanya menyediakan informasi letak, cara menuju lokasi, biaya / waktu yang dibutuhkan, dll. Informasi jalur pendakian memang tersedia di basecamp setempat, beberapa lokasi juga menyediakan versi cetaknya di selembar kertas kecil. Namun, informasi yang tersedia hanya berupa pos-pos pendakian tanpa adanya petunjuk atau tanda-tanda jalur berbahaya serta informasi berbahaya lainnya. Dengan adanya keterbatasan signal internet di gunung, pendaki akan kesulitan mencari informasi terutama jika terjadi keadaan darurat, misalnya tersesat, terjatuh ke jurang, kebakaran hutan, dll.
         Dalam keadaan darurat, pendaki harus bisa membaca situasi sekitarnya. Fauna/flora apa saja yang membahayakan hidupnya, bagaimana cara membaca arah sehingga dapat kembali ke jalur yang benar, bagaimana cara mencari sumber mata air dan makanan di gunung, bagaimana cara melakukan pertolongan pertama jika ada teman / orang lain yang cidera, dll. Informasi-informasi tsb akan dikumpulkan ke dalam suatu database yang memungkinkan para pendaki tsb mengaksesnya secara offline.
          Sistem ini akan dibangun dengan berbasis mobile sehingga memudahkan para pengguna mendapatkan informais yang dibutuhkan melalui perangkat handphone. Para pendaki akan mendapatkan kemudahan pencarian informasi-informasi penting dari pakar meskipun di tengah gunung sekalipun. 


No comments:

Post a Comment